Minggu, 08 April 2012

CARA MEMBUAT COKLAT DARI KETELA


Cara Membuat Brownies Singkong

Siapa yang tidak mengenal brownies? Baik brownies kukus maupun brownies panggang sama-sama enak dan mempunyai tekstur yang lembut serta meninggalkan jejak manis dimulut saat disantap. Saat ini kita bisa menemukan brownies yang divariasikan dengan beraneka macam bahan sehingga menghasilkan brownies-brownies unik yang selalu menjadi incaran banyak orang.
Brownies sebenarnya adalah cake bantat yang memang sengaja dibuat untuk tidak mengembang teksturnya namun tetap enak untuk disantap. Brownies bisa disantap saat sore hari dengan ditemani secangkir kopi pahit maupun teh.

Berikut ini akan dijelaskan cara membuat brownies singkong yang saat ini banyak digemari orang karena dinilai lebih sehat dari brownies yang dibuat dengan menggunakan tepung terigu.



BROWNIES SINGKONG


Bahan:

Bahan A (lelehkan dan dinginkan):
  • 175 gr Margarin unsalted
  • 50 gr Butter unsalted
  • 120 gr DCC

Bahan B (kocok sampai kental):
  • 4 butir telur
  • 325 gr gula pasir

Bahan C (ayak jadi satu, kecuali essence dan aneka kacang-kacangan):
  • 200 gr tepung singkong
  • 55 gr coklat bubuk
  • 20 gr susu bubuk
  • vanilla essence secukupnya
  • 100 gr aneka kacang-kacangan (yg dipanggang sebentar)


Cara membuat brownies singkong:
  1. Lelehkan bahan A dengan cara di tim
  2. Setelah bahan B dikocok sampai kental, masukkan Bahan C.
  3. Aduk semua sampai tercampour rata. Kemudian masukkan bahan A . Aduk sampai rata
  4. Tuang ke dalam loyang ukuran 24x24 cm yang telah dialasi kertas roti dan dioles margarin tipis-tipis dan ditaburi sedikit terigu.
  5. Panggang dalam suhu 170-180 decel selama 35 menit. Lakukan tes tusuk untuk mengecek kematangan brownies.
  6. Segera keluarkan brownies dari oven setelah matang.

TERAPI DENGAN TEH


Oleh Sri Rejeki

Dua juta penduduk di dunia meninggal setiap tahun akibat tuberkulosis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, tahun 2006 di Indonesia ditemukan 14,4 juta kasus tuberkulosis dengan angka kematian 38 per 100.000 penduduk. Sebanyak 98 persen kematian terjadi pada penduduk usia produktif. 

Meski telah tersedia obat antituberkulosis (TB), TB masih menjadi masalah kesehatan dunia yang utama. Penyebabnya, karakteristik bakteri penyebab TB, Mycobacterium tuberculosis, mampu menghindari sistem pertahanan tubuh manusia sehingga terapi kadang kala kurang efektif.

Pengobatan yang tidak konsisten menyebabkan resistensi obat akibat mutasi kromosom mikobakterium sehingga mampu menghindari efek kerja obat, menjadi kendala tersendiri.

Berangkat dari keprihatinan melihat kondisi ini, tiga mahasiswa semester VII Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Solo, yakni Afandi Dwi Harmoko, Yasjudan Rastrama, dan Trisna Adhy Wijaya, menganalisis beberapa penelitian dan menyimpulkan bahwa teh hijau (Camellia sinensis) dapat dijadikan terapi adjuvan (pendukung) bagi terapi TB yang ada. Ini karena teh hijau mengandung senyawa polifenol yang dapat menghambat perkembangbiakan mikobakterium, yakni epigallocatechin gallate (EGCG). Setiap gram teh hijau mengandung 30-50 gram EGCG.

Teh hitam sebenarnya juga mengandung polifenol EGCG, tetapi tidak sebanyak teh hijau. Proses produksi teh hitam membuat kandungan EGCG berkurang.

”Ini sangat menarik karena di negara kita banyak terdapat teh hijau, tetapi kurang optimal pemanfaatannya di bidang kesehatan,” kata Afandi, Kamis (2/2).

Salah satu rujukan yang digunakan ketiga mahasiswa adalah penelitian Anand PK, Kaul D, dan Sharma M di India tahun 2006 tentang polifenol dalam teh hijau yang mampu menghambat perkembangbiakan Mycobacterium tuberculosis. Penelitian ini mengungkapkan, mikobakterium mati setelah 12 jam dipapar EGCG dari teh hijau.

Meningkatkan kekebalan

Menurut Afandi, EGCG memiliki mekanisme sebagai immunomodulator, yakni meningkatkan sistem kekebalan tubuh yang dapat membunuh mikobakterium sekaligus menurunkan sistem kekebalan yang bisa merusak sel-sel normal. Mekanisme ini tidak ditemukan pada obat anti-TB yang digunakan saat ini.

Manfaat lain EGCG adalah sebagai antioksidan yang 10 kali lebih kuat dari antioksidan vitamin C dan 100 kali lebih kuat dari vitamin E.

Selain itu, EGCG juga dapat menghambat pertumbuhan Taco (tryptophan aspartate-containing coat protein) pada makrofag. Makrofag adalah sel imun yang menghancurkan sel cacat sekaligus mematikan zat yang merugikan, seperti bakteri atau virus. Di sisi lain, makrofag tidak dapat menghancurkan mikobakterium karena terlindungi oleh Taco, protein yang dihasilkan makrofag.

”Mikobakterium memanfaatkan Taco untuk melindungi diri sehingga tidak bisa dihancurkan oleh makrofag. EGCG dalam teh hijau dapat menghambat pertumbuhan Taco,” kata Afandi.

Untuk memisahkan EGCG dari teh hijau, menurut Yasjudan, dapat dilakukan dengan mengekstraksi teh hijau dengan metode ekstraksi meserasi, yaitu direndam menggunakan pelarut kloroform, metanol 95 persen, dan etil asetat, kemudian diambil sarinya. Metode ini dapat mengekstraksi tanpa merusak stabilitas EGCG.

”Kami berharap ada penelitian lebih lanjut tentang hal ini, terutama dosis efektif EGCG untuk terapi pendukung serta efek sampingnya,” kata Afandi.

Hasil analisis ketiga mahasiswa yang dituangkan dalam karya tulis ilmiah mendapat juara kedua dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Tingkat Nasional Airlangga Medical Scientific Writing Competition dengan tema ”Tropical Infectious Disease” yang diselenggarakan Oktober 2011.